Quotation


Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
and though they are with you, yet they belong not to you.
You may give them your love, but not your thoughts.
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
for their souls dwell in the house of tomorrow,
which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them, but seek not to make them like you.
For life goes not backward, nor tarries with yesterday.

Kahlil Gibran

Kemana Uang Itu (Teka Teki Logika)

Sebuah perusahaan mengirim tiga orang karyawannya ke luar kota untuk menghadiri pertemuan. Mereka bertiga menginap di sebuah hotel. Petugas mengatakan bahwa sewa kamar sebesar Rp 100.000 per kamar. Ketiga orang itu pun masing-masing menyerahkan uang Rp 100.000 sehingga terkumpul uang sebesar Rp 300.000 dan menyerahkannya kepada petugas itu. Mereka kemudian diantar oleh bell-boy ke kamar masing-masing.

Setelah mereka pergi, petugas baru sadar bahwa hotel itu memberikan potongan sewa untuk tamu rombongan dan ketiga tamu tadi seharusnya hanya membayar Rp 250.000. Ia pun memberikan uang Rp 50.000 kepada bell-boy untuk diserahkan kepada ketiga tamu itu. Mereka bertiga membagi uang masing-masing Rp 10.000 dan memberikan Rp 20.000 sisanya kepada bell-boy sebagai hadiah.

Jadi ketiga orang itu masing-masing membayar Rp 90.000 atau seluruhnya sebesar Rp 270.000. Ditambah uang yang diberikan kepada bell-boy Rp 20.000, jumlah seluruhnya hanya Rp 290.000

Pertanyaannya, kemana uang yang Rp 10.000 lagi?

Keterbukaan Pikiran


Seorang teman yang baru saja pindah ke Filipina bercerita bahwa ia sakit hati, karena pembantunya yang orang Filipina mengangsurkan makanan kepada teman saya itu dengan menggunakan tangan kiri. Sungguh tidak sopan, menurut teman itu.

Seringkali kita seketika merasa tidak nyaman melihat atau mendengar orang lain melakukan atau berbicara tentang keyakinan yang berbeda dengan keyakinan kita. Mungkin itu merupakan tanda bahwa “mekanisme survival” kita sedang aktif. Ada rasa kuatir akan bahaya mengancam.

Namun pikiran yang terbuka adalah pikiran yang sadar bahwa kita tidak mungkin mengetahui segalanya, sehingga masih ada banyak ruang untuk tumbuh. Jika kita tidak mau belajar tentang fakta-fakta baru yang kita temui kemudian mengubah keyakinan kita berdasarkan pembelajaran yang baru, kita akan terjebak, sementara dunia di sekitar kita terus berputar. Kita menjadi barang antik akibat kebanggaan dan ketakutan yang keras kepala.

Jika anda mendengar sebuah ide yang bertentangan dengan keyakinan anda, cobalah untuk mendengarkannya dengan penuh perhatian. Hadapi segala kemungkinan dengan berani. Anda tidak perlu setuju dan menerima begitu saja ide itu, tapi minimal pertimbangkanlah. Perhatikan bagaimana anda memandang orang itu dari sudut yang baru, dengan rasa kesetaraan dan respek. Bukankah ini yang kita harapkan dari orang lain ketika mereka mendengarkan pendapat kita? Mendengarkan dengan keterbukaan pikiran.

Bagaimana menerapkan keterbukaan pikiran ini pada anak kita? Jika anak anda mengatakan ada hantu di bawah tempat tidurnya, jangan abaikan pemikiran anak dengan mengatakan tidak ada hantu. Bersikap terbukalah dengan keyakinan anak anda tentang adanya dunia roh. Jadi anda bisa mengatakan bahwa ada juga malaikat penjaga di bawah tempat tidurnya. Dengan demikian anak anda akan merasa dipahami dan senang dengan solusi  kreatif yang anda berikan bagi ketakutannya. Ajari anak anda untuk menerima pemikiran dan emosinya, baik positif maupun negatif, kemudian mencari solusi secara kreatif. Inilah yang dinamakan empowering.  

Kisah Kancil dan Buaya (Cerita Rakyat Indonesia dan Malaysia)





Pada suatu hari, kancil  sedang minum di tepi sungai, ketika seekor buaya menggigit kakinya. Beberapa buaya lain juga berenang mendekat. Kancil tahu ia harus segera menemukan akal untuk menyelamatkan diri.

“Halo bapak buaya,” kata kancil sambil menyembunyikan suaranya yang  gemetar. “Kebetulan kita bertemu di sini, jadi aku tidak perlu memanggil kalian.”

Para buaya bingung, mengapa kancil ingin bertemu dengan mereka? Buaya yang menggigit kaki kancil bahkan sudah melepaskan gigitannya. Kancil bisa saja melarikan diri, namun ia tahu buaya dapat bergerak dengan sangat cepat. Ia pasti tertangkap lagi.

“Begini, bapak ibu,” lanjut kancil. “Aku diperintah oleh Baginda Raja untuk menghitung jumlah penduduk hutan ini. Berapa jumlah buaya di sungai ini?”

Para buaya saling berpandang-pandangan. Mereka tidak tahu berapa jumlah buaya yang ada di sana.

Kancil menunggu sejenak.

“Kalian tidak tahu?” tanya kancil. Para buaya menggeleng.

“Baiklah.” kata kancil. “Panggil semua buaya kemari.”

Semua buaya datang. Kancil pun mulai menghitung buaya sambil menunjuk-nunjuk. Ia tampak kesulitan menghitung.

“Lebih baik kalian berjajar dari sini ke seberang sana. Aku akan lebih mudah menghitung kalian.”

Para buaya sibuk berjajar. Kancil kemudian menghitung mereka dengan melompat-lompat dari punggung buaya yang satu ke yang lain.

“Satu... dua... tiga... sembilan belas... tiga puluh satu... enam puluh... enam puluh satu, dan terakhir, enam puluh dua!” kata kancil sambil melompat ke tepi sungai di seberang.

Namun kancil masih kelihatan bingung. Ia bergumam keras-keras, “Berapa ya tadi? Enam puluh dua atau enam puluh tiga?”

Para buaya mulai beranjak dari barisannya.

“Eh,” kata kancil. “Jangan bubar dulu. Lebih baik kuhitung sekali lagi.”

Kancil pun kembali melompat-lompat menghitung buaya kembali ke tepi sungai tempat tadi ia minum.

“... Lima puluh sembilan... enam puluh... enam puluh satu... enam puluh dua!”

“Ternyata benar jumlahnya enam puluh dua. Sekarang aku harus melapor kepada Baginda. Terima kasih ya!”

Ia pun lari ke dalam hutan. Karena akalnya yang cerdik, kancil sekali lagi lolos dari bahaya.

TTS Bergambar - Hewan Laut



















1

2




3




















4



5








6


















7








8

























9











































Pertanyaan
Mendatar:                           Menurun:
1.                       2. 
6.                              3.   

7.                     4 dan 5. 
8.                       8. 

9.